KAMPUS STT dan BUS STT
KAMPUS STT dan BUS STT
(Tulisan singkat ketika di Loket STT Menuju Kampus STT )
Oleh : Kristofel dBm Sianipar
.........
Dari defenisi dan cara kerja memang kedua STT diatas tidaklah dapat diperbandingkan. Sekolah Tinggi Teologi (STT) sebagai tempat menuntut ilmu tentang Tuhan (Theos), sementara Sumatera Tapanuli Transport (STT) adalah Salah satu Kendaraan Umum yang beroperasi di wilayah Sumatera
Sekali lagi Kedua STT diatas tidak untuk diperbandingkan, namun muara dari keduanya adalah PELAYANAN. STT yang satu melayani di gereja maupun instansi gerejawi dan non gerejawi dan STT yang satu lagi melayani penumpang dari loket ke loket yang lain
Membawa orang dari ketidaktauan tentang Tuhan menuju pengetahuan yang benar adalah substansi dari belajar ilmu teologi bukan justru membodohi masyarakat ataupun jemaat dengan nuansa teologi atau sesuatu yang kesannya berkaitan dengan Tuhan misalnya: ayat alkitab, aksesoris maupun pola bicara dan gaya hidup saleh lainnya
Kita tau bahwa orang yang diterima menjadi pendeta adalah mereka yang telah belajar ilmu teologi. Sehingga seharusnya memiliki kajian serta upaya mitigasi dan solusi bagi persoalan di gereja tempat melayani
Kita melihat situasi GPKB yang mengalami dualisme kepemimpinan mulai tahun 2010 hingga 2022 dan paling parah 2023 hingga kini yg menjadi tiga kelompok kepemimpinan
Lalu dilema kita ; kok yang katanya belajar ilmu teologi tapi seolah tak pernah belajar teologi. Apakah ilmu teologi tersebut hanya sebagai syarat menjadi pegawai gereja saja?
Tentu dari ilmu teologi, perpecahan dalam suatu komunitas gereja tidaklah dibenarkan justru tujuan teologi adalah seharusnya untuk memperluas jangkauan gereja untuk membawa orang dari gelap menuju terang Kristus
Mereka yang mengaku insan teologi seolah buta sehingga tak mampu melihat keadaan gereja karena beberapa faktor, misalnya ingin mendapatkan gelar pendeta ditengah konflik, ingin mendapat uang sentralisasi ditengah konflik, ingin makan dan minum ditengah konflik, ingin punya jabatan ditengah konflik dll
Tak sedikit yang masih punya anggapan, sebodoh apa pun kalau sudah dipakaikan jubah maka akan kelihatan sebagai ajudan Kristus atau sebagai rasul. Padahal saya melihat dengan mata kepala sendiri, alumni kampus teologi ternama sudah tak lagi menjadikan pendeta sebagai prioritas pelayanan karena jam dan hasil pelayanannya tak bisa di audit. Sudah semakin banyak teolog yang menjadi pelayan masyarakat, mengibarkan sayapnya di instansi pemerintahan dan pendidikan gerejawi maupun sekuler
Lah saya jadi terkentut melihat keadaan GPKB, berlomba menjadi pendeta tapi bukannya menjadi benang merah tapi justru hanya tak lebih dari karakter dan kemampuan para pendeta perusak yang mewariskannya ke para teolog muda. Ada pendeta masuk kategori yg punya kognitif bagus tapi tak punya nyali sehingga ilmu dan gelar nya hanya formalitas karena akhirnya ngangguk saja seperti kerbau yang hidungnya telah dipakaikan tali sehingga apa pun perintah pimpinan ya harus tunduk dengan stereotipe : "naposo ni Debata do ahu"
Lalu apa korelasinya dengan STT yang satu lagi? Ya, para sopir harus mempersiapkan dirinya untuk mengantar penumpang dari suatu tempat ke tempat yang lain. Dan jam kerja dengan hasil kerjanya bisa di audit karena perhitungannya adalah jarak tempuh dan keputusan ongkos penumpang dari dinas perhubungan
Tidak seperti pendeta terkhusus di GPKB, pegawai gereja hanya nampak pada hari minggu saja dan enam hari sebagai pegawai ladang dan perkebunan
Semoga STT yang mengajari kita tentang Tuhan tidak memecahbelah gereja apalagi mewarisi perpecahan tetapi semoga Bus STT menjadi kendaraan yang akan mengantar para pimpinan perpecahan untuk berdialog dan menyatakan niatnya menyudahi perpecahan yang telah berjamur di GPKB
Sekian dan jangan lupa malum

Komentar
Posting Komentar
Terimakasih anda telah mengunjungi blog saya
@Kristofel dBm sianipar