TULISAN TERBUKA 10 JULI




Gambar hanya sebagai ilustrasi





DIRGAHAYU  GPKB KE 95

--------

“GPKB didirikan pada tahun 1927 oleh sekelompok pemuda dan keluarga Batak Kristen. Kebaktian pertama dimulai pada 10 Juli 1927 yang dihadiri 13 orang”  (Selengkapnya lihat Sejarah GPKB)

Inilah sejarah awal terbentuknya organisasi Gereja Punguan Kristen Batak (GPKB). Kita tidak boleh melupakan sejarah para pemrakarsa atau penggagas-penggagas terdahulu. Jika kita lihat dari segi umur, seharusnya GPKB sudah masuk kategori organisasi gereja yang besar, mapan dan berpengaruh. Tetapi sayangnya, fakta 20 tahun belakangan ini menunjukkan bahwa GPKB dikenal orang sebagai gereja yang kecil secara kuantitas dan secara kualitas dikenal sebagai gereja parbada (tukang ribut/cekcok/parbada)

Apa asal muasal Perpecahan GPKB? Tentu sepanjang yang saya ketahui, saya harus menjelaskannya dari awal perpecahan yakni tahun 2010-2011 Ketika beberapa pendeta yang tidak bersedia dimutasi yang pada akhirnya menimbulkan pro kontra di jemaat GPKB. Saya sangat jijik dengan beberapa oknum pendeta waktu itu yang meruntuhkan keutuhan jemaat demi ambisi politiknya yakni menolak mutasi

Padahal berdasarkan petikan surat keputusan konven pendeta yang saya baca bahwa pemberhentian beberapa pendeta tersebut adalah berdasarkan Keputusan Bersama, sehingga itulah awal lahirnya SEKBER PERUBAHAN GPKB. 10 tahun berlalu perjalanan GPKB dengan dua kelompok tersebut tidak berhenti disitu saja, konflik tetap berlanjut yang saya sebut dengan KONFLIK GPKB jilid II

Nah, apa lagi penyebab konflik jilid II ini?

Tahun 2016 tepatnya di Hotel Glory Tarutung, berlangsung sinode Am GPKB. Saya mendengar keputusan yang mengatakan bahwa GPKB terbuka dengan perdamaian kepada mereka yang mengatasnamakan sebagai SEKBER PERUBAHAN GPKB tetapi diberlangsungkan dalam Suatu rapat besar atau sinode yang dihadiri sinodestan dari seluruh gereja GPKB di Indonesia. Hal ini lah yang dimanfaatkan sebagian oknum yang pada tahun 2019-2020 ada masalah antara Majelis Pusat (MP) dan Badan Pertimbangan Majelis Pusat (BPMP) yaitu MP yang dengan sewenang-wenang memindahkan anggota BPMP ke Luar domisili Kantor pusat dengan alasan yang menurut saya adalah SENTIMEN

Ketika cekcok antara MP dan BPMP, dan dari surat rekomendasi dari gereja GPKB seluruh indonesia yang 2/3 memberikan dukungan kepada BPMP untuk memberhentikan dari jabatan Ephorus dan Sekjend maka MP yang tidak habis akal langsung mendadak safari damai dengan mereka yang mengatasnamakan diri SEKBER PERUBAHAN. Dan akhirnya momentum perdamaian itu di klaim sebagai PERDAMAIAN GPKB setelah 10 tahun dualis. Sebelum saya lanjutkan, saya ingin katakan bahwa saya baru sadar ternyata aktor politik busuk tidak hanya berasal dari partai politik atau dari organisasi sekuler tetapi dari dalam gereja dan lingkaran pendeta saja pun sudah banyak pemain politik busuk dan saya mengecam keras mereka

Hingga pada akhirnya, tahun 2021 sinode terbagi dua yakni sinode GPKB di MUARA dan di PALEMBANG. Itulah fakta konkret yang menepis berita hoaks yang mengatakan bahwa GPKB telah DAMAI setelah 10 tahun berkonflik. Bapak Alm. Wtp Simarmata (mantan ephorus HKBP dan juga anggota DPD RI ) adalah saksi perdamaian beberapa pendeta saja yang diklaim sebagai perdamaian yang utuh tetapi faktanya beberapa pendeta masih dipinggirkan, dipecat bahkan dipensiun-dinikan, bahkan membunuh karakter mereka

Sekali lagi saya mau katakan, dari lingkaran pendeta saja sudah berani memainkan politik busuk dan tidak mencerminkan substansi panggilan tahbisannya sebab birahi politik telah menutup mata hatinya untuk menciptakan kedamaian dengan cara yang damai dan terpuji. Hingga kini Konflik GPKB itu terus berlanjut, dan saya harus tetap katakan bahwa api perpecahan ini berasal dari golongan pendeta. Padahal mengingat sejarah GPKB bahwa impian pemuda dan keluarga batak adalah supaya GPKB menjadi semakin dekat dengan Tuhan bukan semakin mengajarkan permusuhan. Yang paling miris buat saya adalah bahwa pendeta yang bukan anak dari jemaat GPKB yang seharusnya menjadi benang merah dan juru damai bagi mereka yang bertikai malah menjadi budak catur politik yang seolah tidak tahu kenapa dia bisa menjadi pendeta alias mengabdi kepada tuannya bukan kepada Tuhan sehingga sulit bagi dirinya berfikir dan mengerjakan Perdamaian dengan membuka ruang dialog dan komunikasi demi Keutuhan GPKB

Maaf, emosi saya hampir meledak menuliskan tentang pendeta GPKB. Soalnya saya melihat bahwa tak sedikit dari pendeta GPKB adalah orang-orang yang tidak bisa melamar ke gereja lain dan tidak diterima di gereja lain karena beberapa faktor. Sehingga tak heran jika kedatangannya di GPKB juga takut, enggan dan sama sekali tak tahu mau berbuat apa. Saya kasihan dengan para pendeta yang niat baiknya ingin membangkitkan GPKB menuju gereja yang maju dan visioner tetapi terhalang oleh karena konflik dan karena memberikan hidungnya di cucuk oleh tuan nya sehingga misi mulia itu tertutup dan pudar secara perlahan

Hei GPKB, Hei pendeta !! Gereja kita ini sudah 95 tahun. Bukan usia anak-anak atau remaja lagi yang senang cekcok dan bertengkar tetapi gereja kita ini sudah berumur tua. Belum malu kah kita terlebih anda para pendeta melihat konflik gereja kita ? Ibarat mobil dengan dua setir tetapi satu mesin, anda bisa yakin kita sampai pada tujuan ? Bukankah penumpang yang ada dalam mobil akan gerah karena pengemudinya ada dua yang masing-masing membawa sesuai keinginannya? Kalau jemaat hanya pindah kursi saja dalam mobil tersebut tidak masalah tetapi faktanya jemaat sudah banyak memilih keluar dari mobil tua itu dan pergi ke mobil lain yang setirnya Cuma satu !!

Huh..!! Saya kok geram yah dengan oknum pendeta bajingan yang selalu menutup ruang dialog itu. Tapi saya tidak berharap banyak lagi kepada mereka yang senang mengambil keuntungan atas perpecahan ini tetapi saya menunggu aktor dari jiwa-jiwa muda baik dari kalangan pendeta, penatua dan jemaat supaya membuka ruang dialog sebagai pintu utama menuju Kedamaian, Keutuhan GPKB dengan cara yang damai

Ini saya tuliskan sebagai ungkapan hati saya sekaligus sebagai bahan refleksi terhadap fenomena gereja GPKB saat ini. Kiranya di usia GPKB yang sebentar lagi 100 tahun mampu menorehkan SEJARAH bahwa GPKB bisa mewujudkan KEDAMAIAN dengan cara yang damai dan KEUTUHAN dengan cara yang utuh bukan justru damai yang SETENGAH apalagi setengah DAMAI

Dirgahayu Gerejaku GPKB yang ke 95, semoga engkau menjadi Gereja yang sesungguhnya dan jangan sampai menjadi Gereja Partai politik !!

Ditulis oleh : Kristofel dBM sianipar




Komentar

Postingan populer dari blog ini

SIKAP KITA TERHADAP PERPECAHAN GPKB JILID I HINGGA JILID II

KETIKA ADVENT – NATAL HANYA SEKEDAR LATAH LATAHAN DI GPKB