SIKAP KITA TERHADAP PERPECAHAN GPKB JILID I HINGGA JILID II


Seperti yang sudah diketahui oleh publik bahwa sampai saat ini GPKB masih dihantam gelombang perpecahan pasca penandatanganan perdamaian antara GPKB dengan mereka yang mengatasnamakan diri sebagai kelompok sekretariat bersama perubahan (sekber GPKB).
Gelombang perpecahan baru itu semakin nyata dengan telah berlangsungnya dua sinode pada Tahun 2022 yakni sinode GPKB di Muara - Sumatera Utara dan sinode GPKB di Palembang - Sumatera Selatan. Kedua sinode tersebut menghasilkan masing masing pimpinan yakni Pdt.Dr M sy simanjuntak sebagai Ephorus dan Pdt P Sianturi M.Th sebagai Sekretaris jenderal (sinode GPKB di Muara) Pdt R Pandiangan sebagai ephorus dan Pdt D Sihombing  sebagai sekjend (sinode palembang)
Tentu jika kita mencari tahu sebab dan musebab terjadinya perpecahan mulai dari jilid I sampai jilid II ini, kita mendapatkan kesimpulan bahwa pelanggaran terhadap aturan peraturan gereja adalah diagnosa dari perpecahan ini dan aktor utamanya adalah berasal dari kalangan pendeta GPKB itu sendiri. Dan jika kita kembali ke awal mula perpecahan GPKB dengan mencari siapa yang salah dan benar maka kita gereja akan mengalami stagnanisasi.
 
Yang pasti "Konflik tidak pernah terjadi karena satu pihak yang salah, tapi perdamaian akan terwujud dengan satu pihak yang benar" artinya dalam hal perpecahan gereja saat ini kita perlu sepakat bahwa semua pihak salah. Sehingga dalam praktek keseharian gereja saat ini tidak ada pihak yang boleh mengatakan dirinyalah pemilik legalitas mutlak selagi ditengah perpecahan. Kuantitas keberpihakan bukanlah penentu utama dalam proses penentuan benar atau tidaknya. 
Sehingga, sebagai warga gereja (pendeta, penatua, dan jemaat) yang menginginkan GPKB utuh dan damai dan mendesak segera menyudahi perpecahan dan dualis kepemimpinan maka kita perlu mengetahui persentasinya melalui penandatanganan sebuah petisi.
Kita seharusnya sudah sampai pada level kebergerejaan yang dewasa yakni tidak lagi memiliki ego yang buta dan sentimental yang suram. Kita tak perlu lagi berpihak kepada personal tetapi harus berpihak pada keutuhan gereja kita. 
Semoga warga gereja segera sadar dan mengupayakan perdamaian tanpa satu pun yang tersisihkan sehingga penikmat perdamaian itu adalah juga seluruh warga gereja tanpa terkecuali.
Terimakasih
Penulis  :  Kristofel dBM sianipar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TULISAN TERBUKA 10 JULI

KETIKA ADVENT – NATAL HANYA SEKEDAR LATAH LATAHAN DI GPKB