KEADILAN RESTORATIF


KEADILAN RESTORATIF SEBAGAI OBAT PEMULIHAN KONFLIK DAN PERPECAHAN GEREJA PUNGUAN KRISTEN BATAK

`````````````





      Asal mula konflik dan perpecahan GPKB adalah Mutasi, dan Mutasi di atur dalam Aturan (undang-undang) organisasi, aturan tersebut di sepakati bersama dalam sidang sinode (Rapot Bolon), dan aturan kesepakatan yang di putuskan menjadi aturan peraturan dibuat dengan menjadikan Alkitab sebagai sumber dan rujukan.


Sampai disana kita faham bahwa tak ada yang salah dengan struktur aturan atau bingkai hukum di GPKB.

Lalu, kita maju selangkah untuk bertanya ; kenapa GPKB berkonflik dan terpecah belah?


Begini..

Hukum sekuler atau hukum yg berlaku di Negara kita, baik pidana maupun perdata merupakan hukum yang buruk. Karena didalamnya masih membuka ruang pengaruh politik dalam menjalankan hukum. Bukan aturannya yang buruk tapi penegakannya (pelaksana, penegak)

Pun demikian, Yang namanya hukum sekuler sudah mengenal Restoratif of Justice yaitu pendekatan secara tradisional, kekeluargaan untuk berdamai dan menyelesaikan diluar hukum. Dan itu sudah banyak kasus yang terjadi.


Seperti yang ditulis diatas, awal mula konflik dan perpecahan GPKB diawali oleh mutasi sebagai bagian instrumen dari aturan yang telah disepakati oleh sidang sinode maupun konven.

Lagi-lagi, GPKB tidak punya masalah di aturan peraturan (hukum gereja) namun konflik dan perpecahan adalah bukti GPKB sedang darurat integritas dan darurat  konsistensi terhadap aturan peraturan itu sendiri.


Fakta kita hari ini adalah bahwa tidak ada habisnya kita memperdebatkan aturan. Misalnya Jika pendeta A mempersangkakan pendeta B dengan pasal 1 maka bisa saja Pendeta B mempersangkakan pendeta A dengan pasal 2 dan seterusnya.

Itu sebabnya kita tak heran jika di GPKB yang dulu memecat, kini juga gantian dipecat.

Kenapa demikian? Karena aturan peraturan tersebut tak ada habisnya untuk kita pertentangkan, sebab aturan itu dibuat untuk dipertentangkan juga.


Nah, letak konflik dan perpecahan ada ditangan penegak, pelaksana, pejabat gereja yang terbuka dengan ruang intervensi kepentingan, politik balas dendam dan dendam politik bagi sesama pendeta. Ada juga yang menggunakan kesempatan untuk dendam kemiskinan karena menurutnya menjadi pejabat gereja adalah jalan menuju kekayaan.


Sehingga kita sampai pada kesimpulan bahwa baik ephorus, sekjend maupun pendeta non pejabat berpotensi mempolitisasi aturan peraturan gereja untuk keinginan pribadi, keluarga dan kelompoknya.

Lalu jika demikian, apa yang seharusnya membedakan pejabat gereja dengan pejabat non gereja (sekuler)?


Mengampuni !!

Ya, mengampuni dan diampuni yang dalam bahasa sekuler adalah keadilan restoratif adalah menjadi ciri utama pengikut Kristus yang dilandasi oleh kasih.

Mengampuni didahului oleh sikap saling mengalah menjadi kunci rekonsiliasi. Tanpa salah satu diantara keduanya, perdamaian tidak akan mungkin.


Lalu, anda boleh bertanya : kenapa harus saya yang mengalah? Kan saya sesuai aturan dan ayat alkitab.


Hei perusak yang merasa dimuliakan, pihak yang disana pun ngomong demikian dan tak kalah argumen dengan kebenaran versi mereka.


Kebenaran alkitab menjadi korektif dan evaluasi bagi kita semua. Emang anda bisa memonopoli kebenaran Alkitab? Lantas, menurut yang anda ketahui apakah di Alkitab tidak mengajarkan bahwa cinta dan kasih adalah suatu keharusan dan mengampuni merupakan jalan untuk kedamaian?


Ah, terkadang bagi-bagi alkitab, aksesoris rohani tidak beda lagi dengan alat alat sirkus dan sulap yang digunakan untuk menipu penontonnya.

Sekali lagi, GPKB tak kekurangan aturan peraturan yang hebat, tak kekurangan akses ayat alkitab juga tapi GPKB darurat pendeta yang berintegritas, pendeta yang mau mengalah untuk menang dan pendeta yang mengorbankan diri sebagai jembatan pemulihan dan penyembuhan luka konflik yang berkepanjangan.


Semoga tulisan sederhana ini menjadi refrensi bagi para mereka yang merasa bagian dari GPKB agar keadilan restoratif atau mengampuni dan saling mengalah menjadi agenda utama dalam tanggungjawab kebergerejaan kita.


Ayo sadar secara kolektif, mari kita buka mata dan lihat peradaban dan  pendeta gereja lain yang sudah mulai ber elaborasi dengan tatanan pemerintahan non gerejawi sementara kita masih bangga punya tiga kelompok, tiga pimpinan yang merasa diri paling benar.


Sekali lagi, ayo sadar secara kolektif. Gunakan uang persembahan itu untuk makan makanan yang bervitamin agar setidaknya mampu berfikir dengan akal sehat. Jangan gunakan sentralisasi hanya untuk membesarkan perut karena wibawa tahbisan bukan terletak pada besar kecilnya perut.


Ayo malum biar sembuh sakitmu

#Keadilan Restoratif

🤝


Kristofel dBm sianipar | Safari Damai

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TULISAN TERBUKA 10 JULI

SIKAP KITA TERHADAP PERPECAHAN GPKB JILID I HINGGA JILID II

KETIKA ADVENT – NATAL HANYA SEKEDAR LATAH LATAHAN DI GPKB