GPKB DAN REFORMASI HOLISTIK

 GPKB DAN REFORMASI HOLISTIK

(Ditulis oleh : Kristofel dBm Sianipar)

----------------------------------------------------------------



Gereja Punguan Kristen Batak atau GPKB, adalah salah satu bukti perjuangan sang Reformator Marthin Luther. Tujuan reformasi yang dilakukan ialah untuk merubah praktek-praktek kebergerejaan yang tidak sesuai dengan alkitab.


Namun demikian, GPKB yang mengaku menganut ajaran Luther, masih terjebak dalam situasi konflik dan perpecahan.


Konflik yang dimaksud penulis bukanlah konflik dalam hal fundamental, doktrin ataupun sistematika. tetapi konflik pemaknaan dan praktek berorganisasi, yang penulis menilai bahwa GPKB sedang di fase LABIL.

Sementara Gereja ini akan memasuki usia satu abad (atau 100 tahun).


Kenapa penulis memilih kata LABIL ?

Ya, Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan, arti labil adalah sifat mudah berubah-ubah, atau tidak kokoh.

Lantas pertanyaan berikutnya adalah, siapa yang Labil tersebut ?

Pendeta, ya pendeta adalah sosok yang penulis maksud sebagai Labil. Karena mereka lah yang gampang berubah, dan tidak kokoh pada tugas panggilan dan praktek kehidupan gereja untuk menjaga kesatuan, keutuhan yang tercantum dalam tri tugas gereja.


Sepanjang yang penulis ketahui dengan bukti dokumen, bahwa mulai tahun 2010 hingga 2023 saat ini, pendeta GPKB terjebak dalam konflik yang mengakibatkan pro kontra atau perpecahan di tengah jemaat.


2010 hingga 2020, ; GPKB terbagi dua kelompok yakni Kelompok Majelis Pusat GPKB dan Kelompok Majelis Pusat Sekretariat Bersama Perubahan GPKB.

Awal mula konflik hingga berujung dua kelompok diatas adalah, karena mutasi terhadap pendeta. Pihak yang satu menganggap mutasi adalah wewenang pimpinan dan konven, sementara pihak lain menilai mutasi tersebut tidak sesuai dengan aturan hasil sinode.


10 tahun berlalu, muncul lagi konflik baru di internal Majelis Pusat dengan Badan Pertimbangan Majelis Pusat. Konflik itu kembali dipicu oleh pemutasian salah satu pendeta yang juga adalah anggota Badan Pertimbangan Majelis Pusat. Pihak yang memutasi menilai bahwa perintah mutasi tersebut adalah keharusan, dan pihak yang keberatan menilai perintah mutasi tersebut tidak sesuai aturan hasil sinode.


Sehingga pihak MAJELIS PUSAT memberhentikan pendeta yang tidak menjalankan mutasi, dan sebaliknya pihak BADAN PERTIMBANGAN MAJELIS PUSAT memberhentikan Ephorus dan Sekjend. Sehingga jemaat kembali ribut dan pro kontra.


Tidak lama kemudian, pihak Majelis Pusat Melakukan manuver baru yakni Menjalin Komunikasi dengan Pihak Sekretariat Bersama Perubahan GPKB, lalu mendeklarasikan perdamaian mereka dan melaksanakan sinode bersama di PALEMBANG SUMATERA SELATAN.


Sementara pihak Badan Pertimbangan Majelis Pusat dengan menghimpun jemaat dan melaksanakan sinode di MUARA SUMATERA UTARA.


Namun konflik tidak berhenti sampai disana. Satu tahun setelah sinode GPKB di Palembang, muncul lagi konflik baru di internal mereka. Sehingga beberapa pendeta yang sebelumnya tergabung dalam sinode tersebut akhirnya keluar dan membangun kelompok baru bernama MAJELIS BERSAMA (MABES GPKB).

Sehingga tercatat 3 kelompok beserta pimpinannya yang tercipta dalam kurun waktu 13 tahun.


Aktor dibalik semua konflik ialah pendeta dan aturan peraturan dijadikan sebagai alasan untuk mewajarkan membangun kelompok baru, dan menentukan pimpinan baru sesuka hati.


Inilah nilai kelabilan pendeta yang dimaksud oleh penulis. Lihat, betapa tidak kokohnya pondasi organisasi GPKB. Betapa gampangnya merubah kesepakatan yang dibuat. Oleh karena hasrat dan sentimen yang menembus ubun-ubun kepala pendeta.


Sementara nilai perjuangan Marthin Luther adalah merubah praktek bergereja yang salah agar kembali ke ajaran alkitab. GPKB justru merubah kesepakatan, hingga mengorbankan jemaat dengan memecahbelah mereka.


Penulis meyakini bahwa GPKB dengan semua kelompok masih satu dalam hal fundamental, misalnya struktur ibadah dan perayaan gerejawi. Namun kedewasaan dalam organisasi, sangat memprihatinkan dan itu dilatarbelakangi oleh kualitas sumberdaya pelayan. Tentu ditengah konflik, rekrutmen dan seleksi terhadap calon pendeta tidaklah efektif mengingat keadaan kekurangan pendeta. Suka tidak suka, kualitas yang tidak mumpuni akhirnya tidak masalah untuk menahbiskan mereka-mereka yang tidak diterima di gereja lain ataupun gereja asalnya.


Sehingga mereka yang diterima akhirnya akan manut dan tunduk kepada pemberi SK pendeta, dan tidak mungkin berani bertindak diluar kendali sang pemberi mandat.


Inilah kelabilan organisasi dan pendeta GPKB. Tidak mudah menjelaskan fenomena ini namun jemaat makin hari makin bijak bahwa akibat ulah pendeta, jemaat menjadi korban konflik dan korban perasaan.


Sangatlah mudah mengucapkan Eklesia reformata semper Reformanda. Sangat gampang juga mendesain liturgi peringatan Reformasi, namun prakteknya sangat jauh dari yang diharapkan. Hingga penulis akan berkata bahwa, pendeta GPKB hanya sedang latah-latahan belaka mengucapkan Istilah Reformasi ditengah GPKB yang masih gampang berubah, seperti anak-anak yang Labil.


GPKB dan Reformasi Holistik harusnya menjadi konsen warga gereja, terlebih para pendeta agar tidak terjebak lama di kubangan konflik yang merugikan semua pihak.


Penulis mengutip ucapan dari Pdt. J simanungkalit ; " Metmet parbue ni hau jior, metmetan do parbue ni hau bane. Dengganma marhata tigor, Dumengganma marhata Dame"


Intinya adalah bahwa ngotot pada kebenaran kelompok akan merugikan semua pihak, tetapi mengalah dan berdamai tanpa syarat dan tanpa intrik, adalah menguntungkan semua pihak.


Karena bagaimana pun GPKB bukanlah milik satu kelompok, sehingga bagaimana mungkin GPKB bisa maju oleh karena satu kelompok ?

Seperti tulisan singkat dari Pdt. M. Siahaan ; "Kemajuan tanpa Kesatuan tidak akan terjadi, kecuali merasa Maju sendiri"


Artinya semua kelompok bisa saja mengklaim diri dan kelompoknya adalah mewakili Legal di negara ini, namun kita bisa lihat sampai detik ini, GPKB kalah program dengan Gereja Luther lainnya. Oleh karena itu, keutuhan dan kesatuan adalah rumus utama untuk menciptakan kemajuan ditengah GPKB.


Inilah reformasi secara holistik yang harus kita kerjakan. Dan para pelayan muda hendaklah menjadi jembatan, jangan justru menjadi pewaris konflik yang tanpa merasa bersalah dan tanpa terbeban.


Kita butuh pemikiran, gagasan dan tindakan terstruktur untuk mengerjakan reformasi holistik ditengah GPKB.

Sebab reformasi bukan sekedar bagi-bagi ayat alkitab, bukan juga dengan segampang memakai aksesoris rohani.


Akhir kata, marilah sadar secara kolektif. Sadarlah bahwa kehadiran di GPKB adalah untuk tuaian pekerjaan holistik ; fundamental dan organisasi. Sebab dewasa atau tidaknya dalam iman, akan mempengaruhi dewasa atau tidaknya dalam organisasi. Kita tidak dipanggil menjadi pelayan diladang tempat menaburkan benih cabai, tomat, jagung dan benih lainnya. Tapi terpanggil untuk menaburkan benih keadilan, kedamaian dan Kemajuan Gereja dengan seluruh kategorialnya.


Selamat memperingati Reformasi Gereja.

Kiranya melalui semangat dan nilai perjuangan Marthin Luther, GPKB menjadi gereja dan organisasi yang dewasa dan Bereformasi secara Holistik


Salam reformasi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TULISAN TERBUKA 10 JULI

SIKAP KITA TERHADAP PERPECAHAN GPKB JILID I HINGGA JILID II

KETIKA ADVENT – NATAL HANYA SEKEDAR LATAH LATAHAN DI GPKB