TULISAN TERBUKA

 TULISAN TERBUKA


Kepada :  

SELURUH PENDETA
GPKB SINODE PALEMBANG
GPKB SINODE MUARA TAPANULI



   Kiranya Sang Kepala Gereja senantiasa memberi Hikmat kepada kita anggota tubuhNya di dunia ini, Amin.

Saya awali tulisan ini dengan mengutip Kalimat dari orang bijaksana: "Tidak ada Kasih tanpa pengampunan, dan tidak ada pengampunan tanpa Kasih." Bryant H. McGill

Saya tidak akan mengutip ayat Alkitab karena saya tahu bahwa para pendeta GPKB sudah sangat faham dengan teks alkitab yang berisi tentang Kasih dan Pengampunan. Izinkan saya mewakili jemaat GPKB yang rindu akan Keutuhan dan Kedamaian GPKB. Dan tentu saja tulisan ini bukan mewakili jemaat yang senang dengan Perpecahan Gereja yang berkepanjangan.

Memasuki Tahun Ketiga dalam periode ini, kita melihat kondisi gereja yang semakin tidak tahu apa kah masih layak disebut sebagai gereja atau tidak. Banyak yang beranggapan bahwa eksistensi kebergerejaan kita didasarkan pada jumlah pengikut ataupun suara torop atau dalam istilah politik disebut pendukung atau konstituen. Jika kita perhatikan dengan seksama bahwa Kepemimpinan  dengan jumlah pendukung yang banyak sekalipun maupun Kepemimpinan dengan jumlah pendukung yang sedikit sama-sama punya beban masalah yang sama yaitu : Jemaat yang sudah gerah dengan Konflik yang seolah tidak ada ujung nya.

Kita tidak boleh menutup mata bahwa saat ini jemaat GPKB yang memang jika dikumpulkan pun dari seluruh kelompok masih relatif kecil dibanding gereja tradisi batak lainnya. Apalagi efek konflik ini tak sedikit dari warga gereja yang memilih fakum, memilih masuk ke gereja batak lainnya dan bahkan ke gereja aliran lain, namun ada juga yang memilih bertahan sebagai jemaat GPKB tapi tidak mengakui kepemimpinan mana pun.

Lagi-lagi ini adalah fakta gereja kita yang tidak bisa kita simplikasikan dengan mengatakan : “itu hak setiap jemaat, kalau tidak suka ya silahkan keluar”.

Jika itu adalah striotipe yang keluar dari mulut pendeta GPKB maka terlalu murah dan terlalu gampang baginya menanggung tahbisan kependetaan itu. Saya tak perlu sebutkan gereja -gereja mana yang saat ini menjadi korban ketidaksatuan pendeta GPKB, baik GPKB yang ada diwilayah Sumatera maupun Jakarta. Anda semua juga punya kaki tangan di setiap wilayah gereja GPKB dan tentunya tahu perkembangan informasi.

Tapi saya melalui tulisan ini tidak bermaksud mengatakan bahwa kondisi gereja kita ini adalah karena pihak tertentu sebab Perpecahan atau pertengkaran tidak pernah terjadi hanya karena satu pihak yang salah tetapi Keutuhan dan Kedamaian akan tercipta cukup dengan satu pihak yang mengalah, mengalah bukan berarti lemah bukan berarti juga karena salah tapi itulah seharusnya wujud dan buah kebergerejaan kita.


Maaf, saya bukan menggurui anda sekalian karena hal yang jauh alkitabiah sudah menjadi bagian hidup anda. Tapi saya harus mengingatkan bahwa KONFLIK sangat merugikan kita semua apalagi jika KONFLIK itu harus diwariskan dan diwarisi.

Bagaimana pertanggungjawaban anda besok bagi generasi muda dan jemaat gereja mendatang ??

Sekali lagi, saya hanya mewakili jemaat yang rindu dengan Keutuhan Gereja kita GPKB bukan mewakili jemaat yang betah dengan perpecahan ini.


Dialog adalah pintu gerbang sebuah perbaikan dan kedamaian. Tanpa itu maka omong kosong jika kita semukan dengan istilah "Haduan dipadame Tuhan i do" bukan saja istilah itu sebagai bahasa kamuflase juga adalah stereotipe kejahatan yang berusaha menutup hati untuk kebaikan dan keutuhan gereja kita GPKB demi mendapatkan sesuatu.


Melalui tulisan ini, saya hanya berharap diantara pendeta GPKB masih ada yang berfikir dengan akal sehat yaitu mereka yang tidak terpenjara dalam kebenaran mutlak kelompoknya, egois dan gengsi kelompok. Sebaliknya, tulisan ini juga bukan kepada pendeta yang bodoh karena kesombongannya merasa diri dan kelompok sebagai pemegang kebenaran mutlak dan pemilik keabsahan hakiki serta menuduh mereka yang berada diluar kelompoknya sebagai makar ataupun ilegal.


Marilah kita sadari betapa tertinggalnya GPKB dibanding gereja tradisi batak lainnya. Sehebat apa pun program gereja  baik pembangunan fisik dan non fisik kategorial tetap mengisahkan luka batin bagi jemaat-jemaat yang akhirnya harus mengeluskan dada sambil berkata "eh tahe metmet do huria on alai lam dipametmet hinorhon ni angka parbadaan ni pandita”


Kalaupun diantara pemimpin kelompok masih ada yang antipati dengan dialog dan seolah takut kehilangan jabatan nya maka saya berharap pendeta yang masih waras dan berakal sehat mampu menjadi benang merah atau sebagai pendeta visioner yang mampu mengingatkan dan mengajak bahwa Keutuhan Gereja haruslah prioritas gereja bukan justru berhenti di zona nyaman dengan nikmatnya uang sentralisasi atau gaji bulanan yang seolah membuat kita lupa akan panggilan untuk menjadi pionir-pionir kedamaian.


Dan kepada pemimpin kelompok yang telah menyatakan bersedia melepaskan jabatan kepemimpinannya menjadi indikator bahwa seharusnya demikianlah terjadi kepada masing-masing kelompok lalu menyelenggarakan sinode istimewa untuk menentukan pemimpin baru yang bisa merangkul semua kelompok.

Namun sayang beribu sayang, tak sedikit dari kalangan pendeta menjadi bisu dan seolah menutup mata dan telinga lalu berkata : “Kenapa harus sinode istimewa, kan kami kelompok sinode yang diakui negara” Lagi - lagi saya harus katakan juga : “Seandainya pun surat pengakuan dari Negara Israel diberikan kepada kelompok tertentu tak ada gunanya jika jemaat pada akhirnya terpecah” Bukankah Kependetaan adalah seharusnya memenangkan Jiwa ?? Atau sekedar berlomba mencari Surat Pengakuan dari institusi??


Maaf, seharusnya pendeta lah yang mencerahkan para jemaat GPKB. Sudah saatnya ilmu teologi yang kita punya mampu mengoreksi keadaan sosiologi gereja. Jangan menganggap bahwa Tahbisan Kependetaan itu akan difungsikan untuk membahas kekacauan bangsa Israel dan sejarah bangsanya Yahudi saja. Berteologilah dalam diri kita yakni kekacauan gereja kita saat ini yang telah menjadi bahan tertawaan oleh gereja lain.

Sekali lagi, ini mewakili suara jemaat yang rindu keutuhan gereja kita bukan mewakili mereka yang senang dan bahkan memelihara perpecahan ini.


Dalam akhir tulisan ini, saya ingin menyampaikan : Marilah kita buka ruang dialog dan jangan antipati. Jika tidak ada lagi dari pihak natua-tua ni huria yang bisa menjadi jembatan maka masih ada jemaat bahkan pemuda GPKB yang bersedia menjadi jembatan dialog.

Mari sedikit punya rasa malu, umur gereja kita sudah akan memasuki 100 tahun namun yayasan pendidikan atau yayasan kesehatan gereja kita NIHIL. Bukankah hal semacam itu seharusnya yang akan diwariskan oleh gereja ?? Kenapa justru mewariskan Konflik ??

Marilah kita kembali ke panggilan kita, tak akan berkurang harga diri anda jika mampu mengalah dan terbuka dengan dialog. Sebaliknya, anda juga tak akan menjadi terhormat meskipun banyak pendukung dibelakang anda jika pada akhirnya wibawa tahbisan menjadi bahan olok-olok ditengah gereja masa yang akan datang.


Tulisan ini sebagai perwakilan dari jemaat yang rindu keutuhan gereja. Marilah kita tempuh Kedamaian dengan cara Damai supaya warga menjadi cerdas Bergereja dan Gereja juga seharusnya wajib mencerdaskan warganya.

Sekali lagi saya tidak akan kutip ayat alkitab karena saya tahu para pendeta paling dekat dengan sesuatu yang rohaniah, sebagai penutup izinkan saya bagikan kata bijaksana :

"Jangan menyimpan dendam dan berlatihlah memaafkan. Ini adalah kunci untuk memiliki kedamaian dalam semua urusan"  Dr. Wayne Dyer

Stop dendam politik yang melahirkan politik balas dendam ditengah gereja !!

PENDETA BERSATU MAKA GPKB UTUH
PENDETA TERPECAH MAKA JEMAAT RESAH

Demikian tulisan ini diperbuat sebagai bukti bahwa tidak semua jemaat GPKB betah dan mendiamkan Konflik berkepanjangan yang telah berlangsung lebih dari 10 tahun.



Sumatera utara,  Maret 2023

Ditulis oleh : Kristofel dBm Sianipar









Komentar

Postingan populer dari blog ini

TULISAN TERBUKA 10 JULI

SIKAP KITA TERHADAP PERPECAHAN GPKB JILID I HINGGA JILID II

KETIKA ADVENT – NATAL HANYA SEKEDAR LATAH LATAHAN DI GPKB