WARISAN KONFLIK

 WARISAN KONFLIK

(Sudut pandang terhadap Konflik yang berkepanjangan di Gereja Punguan Kristen Batak serta pengaruhnya bagi eksistensi gereja dimasa yang akan datang)

-----------



PERJALANAN kehidupan termasuk bergereja sering digambarkan seperti sebuah kapal yang sedang berlayar ditengah laut yang bertujuan untuk sampai ke pelabuhan, yakni suatu tempat berlabuh penuh kedamaian sebagai buah pengharapan, doa dan usaha yang dilakukan. Tapi sebagai orang percaya, tentu kita sepakat bahwa proses perjalanan itu yang menempa dan mendidik kita supaya kita selalu ingat dan menyadari bahwa kita tak mampu berjalan bila tanpa sang Pencipta.

Sesungguhnya itulah yang ingin saya gambarkan terhadap perjalanan kehidupan  GPKB, Kapal tua yang telah berumur hampir satu abad tetapi lebih dari sepuluh tahun (10) dihantam badai. Badainya bukan dari luar kapal tetapi dari dalam yang katanya sebagai pelayan ditengah orang-orang yang ada dalam kapal tersebut. Sehingga tanpa sadar kapal terguncang, retak, roboh dan berpotensi untuk tenggelam ditengah laut.

Siapa pelayan kapal yang dimaksud penulis?

Mereka adalah yang terlihat gagah memakai aksesoris rohaninya, yang selalu menyerukan KASIH, Kasih dan kasih tetapi berupaya membunuh sesama pelayan untuk kepentingan politik busuknya. Yang selalu mengkhotbahkan DAMAI, Damai dan Damai tetapi menggunakan Politik Damai Kamuflase hanya untuk menampung mereka yang dendam terhadap orang yang beda pendapat dengan dirinya. Yang selalu bercerita alkitab dan mendongeng tentang sorga dan ajaran MENGAMPUNI tetapi giliran dimediasi/konsolidasi selalu menghindar dan antipati terhadap ruang dialog.

Krisis pelayan yang bijaksana, itulah yang terjadi di dalam kapal tua itu. Tak sedikit dari mereka yang berani berbohong hanya untuk meraih dukungan dengan mengatakan TELAH BERDAMAI seutuhnya tetapi masih mengecualikan pelayan yang beda pendapat dan yang tidak mau tunduk pada kearoganan dan sifatnya yang tidak tahu berterimakasih kepada pelayan yang telah menolongnya dimasa-masa sulit. Pendeta, ya pendeta adalah pemicu perpecahan di gereja ini. Nama baik pendeta hancur dan berantakan oleh oknum pendeta yang tidak mencerminkan bagaimana seharusnya dia sebagai pendeta. Aha lapatanna au pemimpin? “Molo songonna asing-asing ba pintor ni peccat boha haroa?” Dll, adalah ucapan yang keluar dari mulut oknum pendeta yang seketika berubah menjadi preman meskipun dari tampangnya tak meyakinkan sebagai preman.

Lalu kenapa lebih banyak yang tunduk dan mengikut oknum pendeta yang arogan tersebut? Jawabannya ada dua yang pertama : jemaat banyak tidak mau tau apa persoalan ditengah pelayan yang penting tujuan mereka berkumpul rame-rame beribadah dan itu tak lebih dari keadaan zaman sebelum reformasi yang menganggap kalau sudah disematkan jabatan ephorus, sekjend dan jabatan lainnya berarti sudah tangan kanan Tuhan. Alasan yang kedua : para pelayan yang berada dilingkaran oknum pendeta arogan tersebut adalah yang senang cari aman, siihuthon suara torop dan tak sedikit yang menjadi penjilat dan memakan kembali apa yang telah dimuntahkan oleh mulutnya sendiri. Itu terkonfirmasi oleh surat rekomendasi yang telah dilayangkan namun karena ketakutan dan tidak punya pendirian yang teguh sehingga menjilat kembali ludahnya sendiri dengan materai diatas kertas.

Bagaimana dengan wajah pendeta baru?

Nah inilah sesungguhnya inti dari apa yang saya tuliskan ini. Pendeta yang bisa kita sebut energik, semangat, dan masih relatif sipanggaron dalam arti lincah dan semangat adalah mereka yang datang dari luar gereja GPKB. Meskipun saya tahu bahwa tak sedikit dari antara mereka hadir karena tak bisa menjadi pendeta di gereja lain atau bermasalah di gereja lain dll. Mereka sebenarnya tak tahu dan tidak terlibat diawal persoalan perpecahan GPKB tapi merekalah yang menerima WARISAN KONFLIK dan paling menyedihkan adalah ketika dari antara mereka ada yang menjadi bidak catur yang sengaja ditampilkan untuk meruntuhkan hubungan kealumnian diantara mereka. Namun ada pula diantara wajah pendeta baru tersebut yang cari nyaman saja atau hanya sekedar mengharapkan gaji supaya bisa membuncitkan perut saja tanpa punya beban memikirkan dan mengerjakan suatu tanggung jawab yang lebih besar yaitu menjadi benang merah ditengah kedamaian dan keutuhan yang tercabik-cabik.

Ah sudahlah, saya jadi teringat kata seorang pendeta senior di GPKB ini “godang do pandita on na seharusna dang pandita alai daripada dang adong pandita gabe tajalo ma”  Yang seharusnya wajah-wajah baru tersebut bisa kita harapkan sebagai mesin pemersatu tapi justru sudah berlagak gaya pimpinan dan selalu memasang kesan sebagai tangan kanan Tuhan.

Ini lah tantangan yang besar dalam perjalanan kapal tua ini, yakni konflik dan perpecahan sepertinya sengaja di REGENERASI dan di INISIASI sedemikian rupa supaya ketika ada wajah pendeta baru yang mau tampil sebagai benang merah langsung dibunuh karakternya melalui ancaman, gertakan dan tak sedikit yang nyalinya ciut seperti kucing yang kena hujan.

GPKB sudah 100 tahun berlayar ditengah laut tapi apa yang mau kita banggakan? Penumpang kita yang sedikit (kuantitas) justru semakin sedikit karena tak betah melihat pelayan dan nakhodanya bertikai. Para penumpang takut dan tak mau ikut tenggelam ke dasar laut karena kapalnya mulai runtuh, rusak akibat pelayan dan nahkoda dan mereka memilih pindah ke kapal yang lain yang lebih nyaman bagi mereka mendengar cerita sorga dan berkat. Jika kapal ini harus kita selamatkan maka JANGAN WARISKAN KONFLIK kecuali kita ingin menenggelamkan kapal tua tersebut. Ini beban moral kita semua yang sudah menjadi bagian dari GPKB baik kelompok yang selalu menganggap pemilik kebenaran tunggal maupun kelompok yang lahir akibat perjuangan melawan oknum arogan di GPKB.

Saya tak akan berhenti menuliskan perjalanan kapal tua ini hingga suatu saat jari tangan ini menuliskan nama orang yang tampil sebagai BENANG MERAH dan sebagai contradictio terhadap mereka yang mewariskan Konflik dan perpecahan ditubuh GPKB. Tapi bagi saya saat ini, untuk anda pendeta yang hanya diam dan cari aman, tidak lebih dari seorang guru sekolah minggu yang bisa bernyanyi, berkhotbah, berdoa, mendongeng dan bercerita meskipun yang membedakan adalah karena anda punya jubah hitam, dapat amplop dan bisa baca doa berkat hehehehe

Terakhir, saya dan kita semua pembaca sepakat bahwa gereja yang eksis adalah gereja yang selalu mewariskan Kasih yang sejati bukan Kasih yang kamuflase. Saya teringat dengan teori Kasih yang disampaikan oleh seorang pendeta dan sekaligus dosen  “unang tapakke HOLONG molo..... alai hangoluhonma HOLONG nangpe....” (jangan menerapkan KASIH jika....... tapi hidupilah KASIH meskipun...)

#STOP PERPECAHAN

#STOP MEWARISKAN dan MEWARISI PERPECAHAN




Sabtu, 27 Agustus 2022

Kristofel dBM sianipar | Warisan Konflik


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TULISAN TERBUKA 10 JULI

SIKAP KITA TERHADAP PERPECAHAN GPKB JILID I HINGGA JILID II

KETIKA ADVENT – NATAL HANYA SEKEDAR LATAH LATAHAN DI GPKB